ghaib

ghaib

APA MAKNA GHAIB?

Oleh : Abah Haji Sunakdar

Image

Apakah Arti Ghaib Secara Etimologi / Lughawiy?

Secara tata bahasa (lughawiy) kata ghoib, menurut lisaanul arab berasal dari kata ghoba (tidak tampak, tidak hadir) kebalikan dari kata hadhoro atau dhoharo (hadir atau nampak). Dalam kamus Lisanul Arab disebutkan bahwa “wal ghaib: kullu ma ghaaba ‘anka”, artinya “ghaib itu adalah sesuatu yang absen / diluar jangkauan Anda”. Maka segala perkara yang ditetapkan bahwa manusia memang tidak mampu menjangkaunya, adalah termasuk perkara yang ghaib.

Secara tata bahasa juga arti ghaib adalah tidak terlihat sebagaimana perkataan “bil ghaib” dalam ayat :

Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azab Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihatNya (Q.S. Al Faathir [35] : 18) Perkataan “yakhsyauna robbahum bil ghoib artinya adalah takut kepada azab Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihatNya. Maka istilah ghaib di sini adalah tidak melihatNya

الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ وَهُم مِّنَ السَّاعَةِ مُشْفِقُونَ

Yaitu orang yang takut akan adzab Tuhannya walaupun mereka tidak melihatNya (QS. 21:49)

 Ghaib juga berarti ada, tapi tidak diketahui kecuali Allah saja seperti pada (QS. 27:65)

قُل لاَّيَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللهُ

Perkataan “ghoib” pada ayat di atas, diapit sebelumnya dengan kata “laa ya’lamu” dan berikutnya dengan kata “illa Allah”.

Apakah Arti Ghaib Secara Istilah / Maknawiy ?

Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka (Q.S. Al-Baqarah : 2-3)

Menjelaskan ayat di atas tafsir Jalalain mengatakan yang dimaksud dengan hal ghaib dalam ayat itu adalah masalah hari kiamat, surga dan neraka.

Dia adalah Tuhan Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. (Q.S. Al-Jin : 26)

Apakah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib, sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan)? (Q.S. An-Najm [53] : 35)

Katakanlah: “Wahai Allah, Pencipta langit dan bumi, Yang mengetahui barang ghaib dan yang nyata, Engkaulah Yang memutuskan antara hamba-hamba-Mu tentang apa yang selalu mereka memperselisihkannya (Q.S. Az-Zumar [39] : 46)

Menurut Jalalluddin Asy Suyuthi yang dimaksud dengan hal ghaib yang hanya Allah saja yang mengetahui itu meliputi 5 hal yaitu : Kiamat, Hujan (cuaca), Kondisi Janin Dalam Rahim, Rejeki, Dan Kematian. Hal ini berdasarkan firman Allah sbb :

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati” (Q.S. Luqman [31] : 34)

Diperkuat lagi dengan ayat lainnya bahwa di antara hal ghaib adalah masalah kematian, kapan manusia mati, dan bagaimana manusia mati, di belahan bumi mana manusia mati.

Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan. (Q.S. Saba [34] : 14)

Diperkuat lagi dengan ayat lainnya bahwa di antara hal ghaib adalah masalah kiamat,

Dan orang-orang yang kafir berkata: “Hari berbangkit itu tidak akan datang kepada kami.” Katakanlah: “Pasti datang, demi Tuhanku Yang Mengetahui yang ghaib, sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang kepadamu (Q.S. Saba [34] : 3)

Seorang ulama Syiria, Sa’id Hawwa berkata dalam kitab tafsirnya, bahwa setan adalah salah satu zat yang ghaib, kita beriman kepadanya (percaya akan adanya setan). Kita juga beriman kepada semua yang ghaib yang diberitahukan melalui teks-teks agama kepada kita. Kita memperlakukan hal-hal yang ghaib sesuai tuntunan firman Allah dan hadits Rasul. (Al Asas fii Tafsir Jilid I)

Menafsirkan Q.S. 2 : 3-5, Sa’id Hawwa mengatakan : “ghaib”ialah segala yang tidak kelihatan bagi manusia” Apa saja yang termasuk masalah ghaib yaitu apa saja yang disampaikan oleh Nabi SAW baik yang berkaitan dengan masalah hari berbangkit, hisab (perhitungan di akhirat) maupun berhubungan dengan masalah penciptaan, pahala dalam sholat sebagaimana kelanjutan ayat wa yuqiimuna sholah, dan masalah rezeki sebagaimana dalam kelanjutan ayat wa mimma razaqna hum yunfiquun, kemudian beriman pada kitab kitab sebagaimana ayat walladziina yu’minuuna bimaa unzila ilaika (beriman pada yang diturunkan kepadamu yaitu kitab2 para Nabi), serta percaya pada hari akhirat sebagaimana kelanjutan ayat wa bil aakhiroti hum yuuqinuun” (Lihat Al Asas fii Tafsir Jilid I)

Kesimpulannya : Tidak benar jika yang dimaksud hal ghaib di sini adalah hanya masalah Allah saja. Karena masalah lainnya yaitu hal ihwal hari kiamat, surga neraka, pahala dan dosa, makhluk2 Allah yang tidak nampak (yaitu jin dan malaikat), hujan (cuaca), kondisi janin dalam rahim, nasib manusia, takdir, rejeki, jodoh dan kematian termasuk masalah ghaib.

Image

Seperti kita ketahui sikap manusia mengenai masalah ghaib terbagi pada 2 sikap ekstrim, yaitu yang satu 100% tidak percaya dengan hal-hal ghaib, dan yang satu lagi percaya 100% dengan hal ghaib namun mengikut pemahaman nenek moyangnya dan mempraktekkan sisa-sisa ritual nenek moyangnya yang keliru. Mereka ibarat kutub utara dan kutub selatan, dua2nya ekstrim dan keliru.

Di satu sisi, dunia modern saat ini serba materialistis, semua orang berfikir terbatas pada apa yang bisa dilihat di depan mata, dan sebatas apa yang bisa diindera oleh panca indera kita saja. Maka masyarakat yang telah tersentuh pendidikan modern yang materialistis cenderung tidak percaya dengan hal-hal ghaib. Mereka tidak percaya hantu, mereka tidak percaya adanya jin, dan akhirnya meragukan adanya surga dan neraka, meragukan adanya dosa dan pahala, bahkan secara terselubung maupun terang2an tidak percaya adanya Tuhan. Inilah filsafat materialisme yang diusung oleh Hegel, Karl Marx dan Lenin yang mengatakan bahwa ide adanya Tuhan berangkat dari ketidak mampuan manusia sehingga mencari pembenaran akan adanya dzat yang lebih kuasa.

ghaib

Maka tidak usah heran jika manusia modern terang2an berani berbuat dosa karena sebenarnya secara tidak sadar atau implisit mereka tidak percaya akan adanya dosa, tidak percaya hari akhirat dan kiamat dan tidak percaya adanya kuasa Tuhan. Dalam seminar motivasi diri, kita diindoktrinasi bahwa kitalah yang menentukan nasib kita, bahkan ada yang secara sombong berkata “kitalah yang menuliskan takdir kita sendiri”. Ini termasuk dalam katagori tidak beriman kepada yang ghaib, dan ini bukan masalah sepele, karena ini adalah masalah aqidah.

Sementara di sisi ekstrim lainnya, kita saksikan sisa-sisa manusia tradisional, terutama di masyarakat Timur yang masih mempercayai adanya hal-hal ghaib bahkan sebagian mereka masih mempraktekkan tradisi dan ritual tertentu, seperti sesaji dan persembahan kepada makhluk ghaib. Mereka percaya pada takdir baik dan buruk, mereka percaya bahwa rezeki ada yang mengatur namun hal itu semua mereka gantungkan kepada dzat supranatural yang menguasai alam, seperti nyai loro kidul yang menguasai laut, dewi sri yang mengusai kesuburan tanah, dsb

Pemahaman mereka akan keberadaan makhluk ghaib serta fenomena peristiwa aneh yang terjadi di sekitar kita dilandasi oleh teori-teori yang disusun berdasarkan dugaan-dugaan nenek moyang.

Dan mereka hanya menduga-duga tentang yang ghaib dari tempat yang jauh. (Q.S. Saba [34] : 53)

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”. (Q.S. Al-Baqarah : 170)

Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul.” Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk (Q.S. Al-Maidah : 104)

 “Mereka menjawab: sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian.” (Q.S. Asy Syu’araa’ [26] : 74)

Ustadz Abbas Mahmud Aqad berkata dalam kitabnya berjudul “Iblis” berkata pada zaman sekarang ini terjadi serangan besar2an terhadap segala hal yang gaib, pembahasan masalah ghaib dianggap tidak ilmiah dan mistik. Ada juga aliran rasional yang menganggap semua hal yang gaib adalah tidak masuk akal dan semua teks yang berkaitan dengan hal ghaib dianggap kiasan dan ditakwilkan.

Maka dari itu sangat penting untuk mendudukan secara benar dan meluruskan pemahaman masyarakat tentang alam ghaib. Karena tidak beriman orang yang menolak adanya ghaib sebagaimana firman Allah di awal surat Al-Baqarah :

“(yaitu) mereka yang berimankepada yang ghaib” (Q.S. Al-Baqarah [2] : 3)

Sedangkan orang yang percaya pada yang ghaib namun dengan pemahaman dan persangkaan yang salah tidak sesuai dengan petunjuk Allah juga bisa terjatuh pada syirik.

 

Image

Apakah jika kita membahas masalah hal ghaib itu berarti menyalahi atau menentang ayat yang mengatakan bahwa hanya Allah saja yang mengetahui hal ghaib??

Kita tahu bahwa memang Allah saja yang mengetahui perkara ghaib.

Katakanlah : tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah (Q.S. An-Naml [27] : 65)

Namun Allah menurunkan Al-Qur’an yang berisi firman-firmanNya di dalamnya terdapat penjelasan segala sesuatu termasuk masalah-masalah ghaib yang hanya Allah saja yang tahu

“Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) yang berisi penjelasan segala sesuatu” (Q.S. An-Nahl : 89)

Lalu Allah memerintahkan RasulNya untuk menjelaskan kaepada manusia. Maka atas perkenan dan kehendak Allah pula, Dia menjelaskan sebagian perkara ghaib ini kepada RasulNya.

“(Dialah Allah) Yang Mengetahui perkara ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya” (Q.S. Al-Jin [72] : 26-27)

“Dan Kami turunkan kepadamu (Muhammad) Al-Qur’an  agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa-apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka (para manusia) memikirkannya” (Q.S. An-Nahl [16]: 44)

Demikian pula selanjutnya, Rasul-Nya menjelaskan kepada para sahabat, apa-apa yang diwahyukan Allah tentang perkara ghaib. Maka dari itu Rasulullah SAW menjelaskan tentang perkara yang ghaib sebatas yang ia ketahui dari wahyu Allah saja:

Katakanlah: ‘Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak pula aku mengetahui yang ghaib dan tidak pula aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengetahui kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.’ Katakanlah: ‘Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat?’ Maka apakah kamu tidak memikirkannya?” (Al-An’am: 50)

Maka berdasarkan pengajaran langsung dari Allah pulalah Rasulullah SAW mengajarkan manusia tentang hal-hal ghaib yang utama adalah tentang Allah sendiri :

Aisyah r.a. berkata, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling takwa dan paling kenal tentang Allah dari kamu sekalian adalah saya‘” (H.R. Bukhari)

ghaib

Lalu berdasarkan pengajaran langsung dari Allah pulal Rasulullah SAW mengajarkan manusia tentang hal-hal ghaib seperti kiamat, surga neraka, dll

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau SAW bersabda, “Kunci ilmu ghoib itu ada lima. Kemudian beliau pun membaca firman Allah (yang artinya), “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat, … dst seperti yang disebut dalam surat Luqman : Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati” (Q.S. Luqman [31] : 34) (H.R. Bukhari)

Jika kita runut logikanya begini, Allah adalah termasuk perkara ghaib,  yang mengetahui tentang diri Allah hanyalah Allah sendiri, namun Rasulullah SAW mengetahui tentang diri Allah sejauh yang Allah beritahukan kepada beliau, demikian pula sahabat, tabi’in dan manusia selanjutnya termasuk diri kita, mengetahui tentang Allah sejauh yang Allah informasikan melalui kitabNya dan sejauh yang Rasulullah SAW ajarkan kepada kita, dimana kita membaca hadits-hadits beliau. Maka Rasulullah mengatakan mengetahui tentang Allah itu tidaklah menyalahi. Demikian pula kita mengatakan sesuatu tentang Allah sepanjang itu dilandasi apa-apa yang diinformasikan dari Allah sendiri dan dari RasulNya maka hal itu tidak menyalahi.

Apa Yang Dimaksud Allah Tak Akan Memberitahu Kepada Siapapun Tentang Perkara Ghaib?

Ada yang berpendapat bahwa tidak mungkin siapapun di antara manusia mengetahui hal-hal yang ghaib karena ayat ini :

Dia adalah Tuhan Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. (Q.S. Al-Jin [72] : 26)

Maka ayat ini konteksnya adalah berkait dengan ayat sebelumnya yaitu “Katakanlah aku tidak mengetahui apakah (adzab)yang diancamkan Allah kepada mu itu dekat (sebentar lagi saatnya) ataukah Rabbku menjadikan bagi kedatanganya masa yang panjang (yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali Dia). (Q.S. Al-Jin [72] : 26)

Maka  yang dimaksud bahwa Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib bukanlah semua hal ghaib, melainkan terbatas pada kontes pembicaraan adzab Allah yang diancamkan pada Jin yang tidak beriman.

Jadi duduk perkaranya adalah begini. Surat Al-Jiin turun mengenai serombongan Jin dari dusun Nashibin yang mendengarkan bacaan Al-Qur’an yang dibacakan oleh Nabi Muhammad SAW. Lalu sebagian jin ada yang beriman, dan sebagian lainnya tetap tidak beriman.

Kemudian khusus mengenai ayat ke-22, Imam Ibnu Jarir menceritakan hadits dari Hadrami, telah mendengar bahwa seorang jin dari kalangan pemimpin-pemimpin jin yang mempunyai banyak pengikut telah mengatakan : “Sesungguhnya Muhammad ini menginginkan Allah melindunginya, padahal kami (para jin) dapat memberikan perlindungan kepadanya” Maka Allah menurunkan wahyu : “Katakanlah: “Sesungguhnya aku (Muhammad) sekali-kali tiada seorangpun dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali aku tiada akan memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya. (Q.S. Jiin :22) (Lihat Tafsir Jalalain Jilid IV)

Lalu turunlah wahyu-wahyu selanjutnya Q.S. Jiin ayat 23-26 yang menjelaskan tentang kontes adzab yang diancamkan kepada para Jiin yang tidak beriman yang malahan merasa mampu menjadi pelindung Muhammad, bahwa perkara itu termasuk hal ghaib dan Allah tidak akan memberitahukan kapankah adzab itu akan diturunkan, sebentar lagi kah.. atau masih lama lagi.

Ada juga penjelasan lain, bahwa apa yang dimaksud dengan Allah tidak akan memberitahukan siapapun mengenai perkara ghaib adalah dalam hal-hal yang memang sampai kapanpun siapapun tidak ada yang mengetahuinya seperti misalnya :

1. Masalah Takdir

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib. Tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudh). (Q.S. Al-An’aam : 59)

Pada ayat di atas perkataan “semua yang ghaib” tidak berarti semua secara mutlak berarti kita tidak tahu apapun, melainkan sebagaimana kelanjutan ayatnya yaitu masalah-masalah takdir apa yang bakal terjadi, berapa daun yang gugur, semuanya hanya Allah yang tahu dan semuanya telah ditakdirkan tertulis dalam kitab Lauh Madhfudz.

2. Waktu Pasti Terjadinya Kiamat

Kiamat adalah perkara ghaib, namun tidak semua hal tentang kiamat itu kita tidak tahu. Hal-hal yang kita diberitahu maka kita akan tahu misalnya mengenai bagaimana suasana kiamat itu nantinya :

Tidak adalah kejadian kiamat itu, melainkan seperti sekejap mata atau lebih cepat (lagi). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (An-Nahl: 77)

Adapun mengenai waktu pastinya hanya ada keterangan-keterangan yang sifatnya perumpamaan

Sesungguhnya ajal kalian dan ajal umat-umat yang telah lalu hanyalah seperti masa antara shalat ashar dan tenggelamnya matahari.” (Al-Bukhari VI/495 no. 3459)

Sesungguhna kiamat itu pasti datang. Aku merahasiakan (kapan waktunya)…” (Q.S. Thaha : 15)

Tidak seorangpun dapat menjelaskan waktu kedatangannya (Kiamat) selain Dia” (Q.S. Al-A’raaf : 187)

Bahkan Nabi pun tidak diberitahu Allah

“(Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari berbangkit, kapankah terjadinya?. Siapakah kamu (sehingga) dapat menyebutkan (waktunya). Kepada Rabbmulah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya).” (QS. An Naazi’at: 42-44)

ghaib

Bahkan juga Jibril pun tidak diberitahu Allah

Dia (Jibril) bertanya lagi : beritahu aku tentang Assa’ah (hari kiamat) Rasulullah menjawab : Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya”.. (H.R. Muslim)

3. Kapan Pasti Waktu Dibangkitkan Dari Alam Kubur Ke Padang Mahsyar

“Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan. (QS. An-Naml : 65)

Maka yang dimaksud dengan tidak mengetahui perkara ghaib kecuali Allah adalah perjara kapan mereka dibangkitkan yang mana memang sampai kapanpun bahkan Nabi pun tidak mengetahuinya yaitu kapan terjadinya tiupan sangsakala kedua dimana mayit akan dibangkitkan dan dikumpulkan di Padang Mahsyar

4. Kejadian Masal Lalu Yang Tidak Ada Yang Tahu

Misalnya tentang apakah Nabi Isa disalib atau diangkat ke langit

Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, `Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan `Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) `Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah `Isa.” (Q.S. Al-Nisaa’: 157)

Atau tentang kisah ashabul kahfi pemuda dan anjingnya yg ditidurkan di dalam gua selama 300 tahun

Kami (allah) lebih mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lama mereka tinggal (dalam gua itu). (Q.S. Al kahfi : 12)

Katakanlah: “Wahai Allah, Pencipta langit dan bumi, Yang mengetahui barang ghaib dan yang nyata, Engkaulah Yang memutuskan antara hamba-hamba-Mu tentang apa yang selalu mereka memperselisihkannya (Q.S. Az-Zumar [39] : 46)

paling dicari:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *