uang asma

uang asma

Uang Asma‘ oleh orang awam sering dianggap sebagai uang balik, yaitu uang yang apabila dibelanjakan lalu
kembali (balik) kepada pemiliknya. Bagaimana yang sebenarnya dengan uang asma‘ itu? Beberapa guru
memberikan ijazah tentang uang asma’ ini, tapi tidak ada satupun dari para guru itu yang berani menjanjikan
bahwa setelah asma’nya diamalkan, maka menyebabkan uang yang sudah dibayarkan kepada orang lain akan kembali kepemiliknya.
Namun mereka menjelaskan bahwa yang dimaksud uang balik adalah rejeki yang mengalir terus menerus
sehingga uang yang kita belanjakan seolah-olah kembali lagi dan kita tidak pernah kekurangan uang, bahkan
bila disertai usaha yang sungguh-sungguh Insya Allah rezeki akan bertambah terus. Tentu bukan seperti
anggapan orang awam bahwa uang balik adalah uang yang ketika dibelanjakan akan kembali kepada
pemiliknya dengan cara gaib.

uang asma

Cara yang pertama, anda harus mengumpulkan sejumlah uang yang berlaku di negeri tempat anda tinggal,
yaitu, dari nilai uang yang paling rendah hingga yang tertinggi. Jika di Indonesia, berarti : Rp. 25,- Rp.50,
Rp.100,- Rp.500,- Rp.1.000,- Rp.5.000,- Rp.10.000,- Rp.20.000,- Rp.50.000,- dan Rp.100.000,-
Seluruh uang itu jika dijumlah mencapai Rp. 186.675 ( Seratus delapan puluh enam ribu enam ratus tujuh
puluh lima). Selanjutnya, sejumlah uang itu ditambah dengan uang logam kuno (godem/kethip) dan
dimasukkan dalam peti atau kotak terbuat dari kayu atau besi yang sengaja dibuat untuk melakukan ritual itu. Jika peti dan sejumlah uangnya sudah tersedia, mulailah untuk melakukan amalan batin. Caranya, selama 10
(sepuluh) malam, harus bershalat hajat 2 rakaat pada tengah malam dan setelah sholat hajat membaca Surat
Al-Kahfi (sekali). Surat Al-Kahfi terdapat dalam Alquran Surat ke 18 Juz 15. Banyak ayatnya 110. Cara membacanya pada tengah malam itu, setiap sampai pada ayat yang ke 109 berbunyi:

” Qul lau kaanal bahru midaadal likalimati rabbii lanafidal bahru qabla an tanfada kalimaatu rabbii wa lau ji naa bimitslihii madada “, dibaca 3X.

Uang ini pun dapat diwariskan pada anak-cucu, sepanjang mereka masih dapat melanggengkan untuk :
1. Menyimpan uang itu dan tidak menggunakannya untuk kepentingan pribadi.
2. Setiap kali ada uang masuk (hasil dari perdagangan, hadiah,dll), maka ambillah uang (dalam peti) yang
sudah diasma’ itu sejumlah 2,5% hingga 10%, dan sedekahkan pada fakir miskin, yatim piatu atau kegiatan
sosial keagamaan. Misalnya, anda diberi hadiah uang Rp. 1.000.000,- Maka ambil sesuai prosentasi diatas (2,5 – 10 presen), berarti sekitar Rp.25.000,- hingga Rp.100.000,-. Uang yang diambil untuk disedekahkan itu adalah uang yang sudah diasma’. Selanjutnya, ganti uang yang dikeluarkan itu dari dalam peti dengan uang yang baru anda terima.
Insya Allah, jika hal ini dilakukan secara rutin, maka dalam waktu yang tidak lama, akan ada perubahan,
ekonomi lebih maju dan berkah disebabkan oleh laku lahir batin, yaitu, secara batin melakukan shalat hajat
selama 7 malam dan membaca Surat Al-Kahfi, dan amalan lahir berupa sedekah kepada orang yang berhak
menerima. Amalan yang menyeimbangkan antara ritual dengan sosial, jauh lebih cepat bereaksi dibanding jika hanya menekankan pada satu sisi saja. Terbukti, banyak orang mengamalkan wirid untuk kemudahan rezeki, namun karena bersifat bakhil (enggan berderma), amalan wiridnya pun seperti tidak manjur.
Sebaliknya, orang yang (maaf) ibadahnya sedang-sedang saja, namun karena sifatnya dermawan, justru lebih cepat menerima karunia dari Allah SWT. Dan seorang guru hikmah menjelaskan, amalan yang bersifat batin
(wirid) itu adalah ibarat pohon. Buahnya adalah perwujudan sikap dermawan seseorang terhadap sesamanya. Dengan memahami hal ini, pemahaman tentang “uang balik” adalah uang yang dibelanjakan dijalan Allah, kemudian setelah itu Allah SWT akan mengembalikannya yang lebih banyak.

Uang Asma’ II

Jika dengan cara pertama anda kesulitan karena terbatasnya dana dan kemampuan membaca Alquran, anda
dapat menggunakan alternatif lain yang lebih mudah dengan cara:
1. Puasa 1 hari pada hari Kamis.
2. Sediakan 7 lembar uang dengan nilai yang sama.
3. Setiap satu lembar uang dibacakan Surat At-Thalaq 2 – 3 sebanyak 7 (tujuh) kali ulangan lalu ditiupkan.
Untuk 7 lembar uang berarti 49 ulangan.
Wirid untuk mengasma’ uang ini dilakukan setelah berbuka puasa dan shalat maghrib. Selanjutnya, setiap
lembar uang itu di sedekahkan selama 7 hari berturut-turut, dimulai hari Jum’at hingga Kamis.
Lakukanlah pengasmakan uang ini minimal tiga bulan sekali. Namun ada juga yang melakukannya bukan
pada hari Kamis, melainkan memilih pada hari kelahirannya. Seperti halnya kaidah yang pertama, cara yang
inipun menyeimbangkan antara amalan lisan dengan perbuatan. Karena setelah uang disedekahkan, dalam
keseharian itu anda disarankan untuk membaca wiridnya minimal 7 (tujuh) kali ulangan. Sedangkan untuk ayat selanjutnya (yang terakhir) dibaca sekali.
Setelah surat Al-Kahfi selesai dibaca, tiup tiga kali pada sejumlah uang yang terdapat dalam peti itu. Dan
amalan ini harus dilakukan pada sepuluh malam berturut-turut tanpa terputus.
Amalan dalam ilmu uang asma‘ ini tidak hanya bermanfaat pada orang yang membacakan Surat Al-Kahfinya kewajiban pokok yang harus dilakukan, sebagai berikut:

Dan dalam kondisi yang sangat terdesak, ada saja cara Allah mencukupkan kebutuhan. Dan uniknya,
terkadangpun sesekali terjadi, ada uang misterius yang masuk kantong, tas atau laci meja yang disebut rezeki min haitsu laa yahtasib (dari pintu yang tidak diduga-duga). Namun secara logika, uang itu boleh jadi berasal
dari uang kita juga yang semula nyelip. Namun karena itu kita temukan disaat membutuhkan, kesannya menjadi sangat berharga.
Namun jika datangnya uang misterius itu sangat sering dan tidak masuk akal, jangan sekali-kali punya
keyakinan bahwa uang itu berasal dari khodam yang mencuri. Anda harus yakin bahwa itu berasal dari Allah
SWT. Itu rezeki sebagaimana Allah Yang Maha Pemurah mengirimkan makanan (buah-buahan) pada perawan Maryam ketika dikurung dalam mihrabnya.
Uniknya, keajaiban dalam ilmu hikmah itu baru terjadi ketika kita sudah tidak terlalu bernafsu (membutuhkan) dengan keuntungan-keuntungan yang bersifat duniawi. Sebab, orang-orang yang diberi jalan keluar dari segala persoalan dan rezeki dari pintu yang tidak terduga adalah mereka yang takwa dan tawakal, sebagaimana tersebut dalam ayat yang menjadi amalan rutin itu, yang artinya:
Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, tentu akan diadakan-Nya jalan keluar baginya. Dan memberinya
rezeki dari “pintu” yang tidak diduga-duga olehnya. Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, maka Ia akan mencukupkan kebutuhannya. Bahkan sesungguhnya Allah pelaksana semua peraturan-Nya. Dan Allah juga telah menjadikan segala-galanya serba berukuran.

Uang Asma’ III

Cara lain bagi yang tidak mampu dengan cara tersebut di atas, cukuplah dengan membaca Surat Al-Kahfi ayat 109 yaitu ” Qul lau kaanal bahru midaadal likalimaati rab-bi lanafidal bahru qobla antanfada kalimaata rab-bii wa lau jinaa bimitslihi madadaa ”

Cara ini sering disebut dengan asma’ “uang bibit”. Orang yang berprofesi sebagai pedagang yang setiap saat
butuh mengeluarkan uang untuk belanja, lebih cocok dengan cara yang ke – 3 ini. Adapun cara riyadhah (laku batin)-nya adalah, selama 10 malam membaca shalawat nabi sebanyak 1000 (seribu) kali, dilanjutkan dengan surat Al-Kahfi ayat 109 sebanyak 100 (seratus) kali, lalu ditiupkan pada sejumlah uang yang masih laku ditambah uang kuno sebagaimana cara uang asma’ ke-1.
Cara mengeluarkan uang dari dalam peti pun sama seperti aturan yang berlaku pada cara ke – 1. Yaitu, dengan prosentase : 2,5 presen – 10 presen. Bedanya cara yang ke- 3 ini, uang dalam peti dapat digunakan untuk belanja yang tujuannya barang belanjaan itu akan dijual kembali ( Jawa : kulakan )
Uang yang sudah diasma’, jika dikeluarkan dari peti pun tetap harus diganti lagi dengan uang yang baru yang belum diasma’. Dan yang mengamalkan cara ke – 3 ini masih memiliki tugas lain.
Yaitu, setiap kali hendak berangkat belanja, menghadap kiblat membaca syahadat 3 kali. Menghadap utara
membaca syahadat 3 kali, menghadap timur membaca syahadat 3 kali, menghadap selatan membaca syahadat 3 kali, menghadap kiblat namun menengadah membaca syahadat 3 kali dan terakhir menunduk dan membaca syahadat 3 kali.
Setelah itu berdoa semoga barang yang akan dibeli nantinya diberi berkah oleh Allah SWT dan orang yang
menerima uang dari anda pun, diberi limpahan berkah.
Wirid yang diamalkan adalah Surat At-Thalaq ayat 2 – 3:
” Wa may yat-taqil laaha yaj’al lahuu makhrajaa, wa yarzuqhu min haitsu laa yahtasib, wa may yatawak-kal
‘alal laahi fa huwa hasbuh, in-nal laaha baalighul amrih, qad ja’alal laahu likul-li syai-in qadraa”.
Bagaima reaksi dari amalan batin tentang uang asma‘ ini? Berdasarkan pengalaman, jalan rezeki itu jauh lebih
sebagaimana makna dari ayat yang dijadikan wirid, pertolongan itu datang dari jalan yang tidak diduga-duga.

 uang asma

Uang Asma’ IV

Cara ini lebih praktis. Anda cukup memilih waktu yang dianggap “hari baik” untuk bersedekah. Namun cara
bersedekah itu agak unik, yaitu, mengikuti jumlah “Sembilan”. Misalnya, Rp. 90,- Rp. 900,- Rp. 9.000,- Rp.
90.000,- dan seterusnya, tergantung kemampuan anda.
Sejumlah uang yang dipilih untuk disedekahkan itu tidak perlu diasma’, melainkan langsung disedekahkan
kepada orang yang patut menerima, secara terang-terangan, atau secara rahasia. Mengenai hari yang dianggap baik itu tergantung selera. Ada orang yang menganggap bersedekah yang paling baik pada hari Jum’at, namun ada yang memilih hari kelahirannya berdasarkan kalender Jawa.
Bersedekah, menurut ajaran agama, yang paling baik dilakukan secara rahasia atau sirri. Karena itu, ada yang memilih sedekah kepada orang buta, atau mengirimkan uang itu (melalui pos) tanpa menyebutkan dari siapa uang itu dikirim.
Hikmah melakukan sedekah rahasia amatlah besar. Bahkan para ahli hikmah menyarankan, seseorang yang
akan memulai suatu ritual batin, hendaknya memulainya dengan bersedekah terlebih dahulu. Sedekah itu
menjadi pendorong lebih cepatnya sampai apa yang dicita-citakan. Jadi, dalam konsep  uang asma‘, tidak ada niat untuk merugikan pihak lain. Dengan menjalani ijazah uang asma’, justru kita disarankan banyak bersedekah kepada fakir miskin, dan mendoakan orang lain diberkahi Allah SWT. Segala perilaku baik membuahkan kebaikan pula. “Barangsiapa mengasihi yang di bumi, yang di langit pun akan mengasihinya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *